KABARTAMBANG – PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) memperkuat pengembangan hilirisasi mineral melalui pengembangan rantai nilai nikel serta integrasi bisnis bauksit hingga produk alumina.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTAM, Arini Kasmira, mengatakan hilirisasi menjadi bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang perseroan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri.
“Pengembangan hilirisasi merupakan bagian penting dari strategi pertumbuhan jangka panjang ANTAM. Kami ingin memastikan sumber daya yang dimiliki Perseroan dapat memberikan nilai tambah yang semakin optimal melalui pengembangan rantai bisnis yang lebih terintegrasi, dengan tetap memperhatikan aspek keekonomian proyek dan pengelolaan risiko,” jelas Arini.
Pada komoditas nikel, ANTAM mencatat produksi bijih sekitar 7,78 juta wet metric ton (wmt) sepanjang Semester I 2026. Sementara volume penjualan mencapai sekitar 6,77 juta wmt.
Seluruh penjualan bijih nikel ANTAM pada periode tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Pengembangan hilirisasi nikel dilakukan melalui pembangunan rantai nilai yang mencakup kegiatan pertambangan, fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan High Pressure Acid Leach (HPAL), hingga pengembangan material baterai dan sel baterai.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya ANTAM mendukung pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di dalam negeri.
Di sektor bauksit, perseroan juga mengembangkan integrasi dari kegiatan pertambangan hingga pengolahan menjadi alumina. ANTAM memiliki tambang bauksit di Tayan serta fasilitas Chemical Grade Alumina (CGA) melalui PT Indonesia Chemical Alumina dengan kapasitas terpasang 300 ribu ton per tahun.
ANTAM juga memiliki 40 persen kepemilikan pada fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) Mempawah yang memiliki kapasitas terpasang 1 juta ton per tahun.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral sekaligus memperkuat keterkaitan antara sektor pertambangan dan industri pengolahan mineral nasional.
Di tengah agenda pengembangan bisnis, ANTAM tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian dalam investasi dan pengelolaan risiko.
Hingga Semester I 2026, perseroan mencatat total aset Rp61,27 triliun, ekuitas Rp38,53 triliun, serta kas dan setara kas Rp9,23 triliun.
Arini mengatakan posisi keuangan tersebut menjadi dasar bagi perusahaan dalam menjalankan agenda pertumbuhan.
“Kami akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, disiplin investasi, dan pengelolaan risiko. Setiap agenda pengembangan akan kami jalankan secara prudent agar memberikan nilai tambah yang optimal sekaligus menjaga kesehatan keuangan Perseroan dalam jangka panjang,” katanya.
ANTAM selanjutnya akan mengoptimalkan portofolio emas, nikel, dan bauksit sekaligus melanjutkan pengembangan hilirisasi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.











