KABARTAMBANG – PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) memulangkan sejumlah pekerja yang bertugas di kawasan Timur Tengah menyusul situasi geopolitik yang berkembang di wilayah tersebut.
Sebanyak 11 perwira yang bekerja di Basra, Irak dan delapan pekerja lainnya yang berada di Dubai, Uni Emirat Arab berhasil direlokasi ke Indonesia melalui proses evakuasi bertahap.
Perjalanan pemulangan dari Basra menuju Jakarta memerlukan waktu sekitar dua pekan akibat terbatasnya akses penerbangan internasional di sejumlah negara kawasan Teluk.
Penutupan bandara di beberapa kota seperti Kuwait City, Dubai dan Doha turut memengaruhi jalur perjalanan yang harus ditempuh tim evakuasi.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Awang Lazuardi menyampaikan proses evakuasi berlangsung melalui koordinasi intensif antara perusahaan dan sejumlah pihak terkait.
“Situasi geopolitik yang berubah cepat tentu memengaruhi operasi kami di Irak, namun berkat koordinasi yang baik dengan berbagai pihak seluruh perwira dapat kembali dengan selamat,” ujar Awang Lazuardi.
Evakuasi Perwira Pertamina dari Irak Berlangsung Bertahap
Direktur Utama PIEP Syamsu Yudha menjelaskan keselamatan pekerja menjadi fokus utama perusahaan dalam setiap aktivitas operasional di luar negeri.
PIEP menjalankan prosedur Health, Safety, Security and Environment (HSSE) serta Business Continuity Plan (BCP) secara disiplin selama proses evakuasi berlangsung.
Pemantauan situasi keamanan juga dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan seluruh personel memperoleh perlindungan maksimal.
Perusahaan juga melakukan evaluasi terhadap rute evakuasi sebagai bagian dari langkah antisipasi apabila terjadi penutupan wilayah udara di masa mendatang.
Unit Pertamina Irak Eksplorasi dan Produksi (PIREP) segera mengaktifkan Emergency Response Team (ERT) setelah menerima laporan mengenai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Tim tersebut kemudian melakukan pemantauan kondisi keamanan serta memperkuat komunikasi dengan berbagai perwakilan diplomatik Indonesia di kawasan Timur Tengah.
Koordinasi dilakukan bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Baghdad, Kuwait City, Riyadh, serta Abu Dhabi.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia juga turut terlibat dalam memantau perkembangan situasi keamanan di wilayah tersebut.
Dalam proses pemulangan, para pekerja menempuh perjalanan darat dari Basra menuju perbatasan Safwan sebelum memasuki wilayah Kuwait.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Dammam di Arab Saudi sebelum seluruh personel diberangkatkan melalui jalur udara.
Dari Dammam para pekerja terbang menuju Jeddah dan selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Indonesia.
Sebagian personel tiba di Jakarta pada 10 Maret 2026, sementara sisanya mendarat sehari setelahnya.
Langkah cepat yang dilakukan Pertamina dalam mengevakuasi pekerja tersebut juga mendapat apresiasi dari sejumlah diaspora yang bekerja di perusahaan minyak lain di kawasan tersebut.
Selama proses evakuasi berlangsung perusahaan juga menjalin komunikasi langsung dengan keluarga para pekerja untuk memberikan informasi terkini mengenai kondisi mereka.
Perusahaan turut membuka jalur komunikasi hotline selama 24 jam agar keluarga dapat memperoleh informasi dan dukungan sewaktu-waktu diperlukan.
Sebagai informasi, Pertamina Irak Eksplorasi dan Produksi (PIREP) dibentuk pada 2013 untuk mengelola aset Pertamina di Irak.
Perusahaan tersebut mengelola kegiatan eksplorasi dan produksi minyak di Blok West Qurna-1 Field (WQ-1) yang berada sekitar 50 kilometer di barat laut Kota Basra.
Sejak 2023 Pertamina memiliki hak partisipasi sebesar 20 persen pada blok tersebut yang termasuk salah satu ladang minyak terbesar di dunia.
Pengelolaan proyek tersebut menggunakan skema Technical Service Contract (TSC) yang disetujui Pemerintah Irak.
Dalam skema tersebut perusahaan migas bertindak sebagai penyedia layanan teknis dengan mekanisme pembayaran jasa, berbeda dengan Production Sharing Contract (PSC) yang digunakan di Indonesia.
Kontrak pengelolaan West Qurna-1 melibatkan sejumlah mitra internasional termasuk Petrochina, Basra Oil Company, Itochu, serta OEC sebagai mitra negara.











