KABARTAMBANG – PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) berkomitmen dalam industri pengolahan mineral dalam negeri yang dijalankan bersama MIND ID sebagai holding industri pertambangan milik negara.
Hal itu telah dibuktikan lewat pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit, alumina, dan aluminium di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat sejak Februari 2026.
Proyek tersebut mendukung kebijakan hilirisasi mineral nasional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Program pengembangan industri ini juga selaras dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan hilirisasi sumber daya alam sebagai penggerak penguatan industri nasional.
Direktur Utama INALUM Melati Sarnita menyampaikan bahwa pengembangan industri aluminium dari hulu hingga hilir diharapkan meningkatkan posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas strategis tersebut.
Ia menuturkan pengolahan bauksit hingga menjadi aluminium merupakan agenda industri nasional yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian sektor manufaktur di dalam negeri.
“Hilirisasi bauksit menjadi aluminium merupakan agenda strategis nasional untuk memperkuat kemandirian sektor industri Indonesia,” ujar Melati.
Proyek Aluminium Terpadu INALUM di Mempawah
Fasilitas yang dibangun di Mempawah mencakup Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase dua serta pembangunan smelter aluminium yang berada dalam satu kawasan industri.
SGAR fase dua memiliki kapasitas produksi sekitar satu juta ton alumina per tahun.
Pembangunan fasilitas tersebut dilakukan berdekatan dengan SGAR fase satu yang telah memiliki kapasitas produksi alumina sebesar satu juta ton per tahun.
Dengan beroperasinya dua fasilitas tersebut, kapasitas produksi alumina domestik diproyeksikan mencapai dua juta ton per tahun.
Kebutuhan bahan baku bijih bauksit untuk fasilitas ini diperkirakan mencapai enam juta ton per tahun.
Pasokan bauksit akan diperoleh dari wilayah izin usaha pertambangan milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) yang berada di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
Pengelolaan fasilitas SGAR dilakukan oleh PT Borneo Alumina Indonesia yang merupakan perusahaan patungan antara INALUM dan ANTAM.
Selain refinery alumina, proyek ini juga mencakup pembangunan smelter aluminium baru dengan kapasitas produksi sekitar 600.000 ton per tahun.
Seluruh produksi aluminium dari fasilitas tersebut direncanakan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.
Apabila digabungkan dengan produksi aluminium dari smelter INALUM di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, total kapasitas produksi aluminium perusahaan diproyeksikan mencapai sekitar 900.000 ton per tahun.
Pasokan listrik untuk mendukung operasional smelter aluminium di Mempawah direncanakan berasal dari PT Bukit Asam Tbk.
Nilai investasi pembangunan fasilitas pengolahan dan peleburan aluminium terpadu tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp104,55 triliun atau setara dengan 6,23 miliar dolar Amerika Serikat.
Proyek ini juga tercatat sebagai bagian dari program strategis nasional yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan bahan baku industri aluminium di dalam negeri.
Pengembangan fasilitas ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor aluminium serta meningkatkan posisi negara dalam rantai pasok aluminium global.
Dari sisi ekonomi, proyek tersebut diperkirakan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Kegiatan industri yang dihasilkan diproyeksikan dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp71,8 triliun setiap tahun.
Selain itu, penerimaan negara dari aktivitas ekonomi yang tercipta diperkirakan mencapai sekitar Rp6,6 triliun per tahun.
Pembangunan hingga operasional fasilitas industri ini juga diperkirakan membuka peluang kerja bagi sekitar 65.000 tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pengembangan kawasan industri aluminium di Mempawah menunjukkan komitmen INALUM bersama MIND ID dalam memperkuat ekosistem industri mineral nasional yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.











