KABARTAMBANG – MIND ID mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp29 triliun, atau melampaui target sebesar 13 persen.
Kinerja tersebut ditopang oleh pendapatan yang mencapai Rp159 triliun, atau 4 persen di atas target, serta EBITDA sebesar Rp42 triliun atau meningkat 3 persen dibandingkan target yang telah ditetapkan.
Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menilai capaian tersebut mencerminkan kinerja yang solid, terutama dari sisi integrasi bisnis hulu hingga hilir yang semakin efektif.
“Kinerja ini menunjukkan kemampuan MIND ID dalam integrasi hulu ke hilir yang semakin baik, di luar adanya windfall profit dari kenaikan harga komoditas akibat dinamika geopolitik global,” ujar Toto dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, kenaikan harga komoditas global turut memberikan dorongan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Namun, faktor utama tetap berasal dari strategi integrasi operasional yang berjalan optimal.
Toto juga menilai MIND ID memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah melalui diversifikasi produk, khususnya dengan masuk ke sektor hilirisasi produk akhir seperti baterai kendaraan listrik.
Saat ini, MIND ID tengah mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang mencakup penambangan nikel, pembangunan fasilitas pengolahan di Halmahera Timur, hingga produksi baterai di Karawang.
Selain itu, penguatan integrasi industri aluminium juga dilakukan melalui sinergi antara PT Aneka Tambang Tbk di sektor hulu, pengolahan alumina oleh PT Borneo Alumina Indonesia, serta smelter aluminium oleh PT Indonesia Asahan Aluminium dengan dukungan energi dari PT Bukit Asam Tbk.
Proyek pengolahan dan pemurnian bauksit alumina terintegrasi di Mempawah menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
Pada komoditas emas, Antam juga tengah membangun fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik dengan dukungan pasokan bahan baku dari PT Freeport Indonesia. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Selain penguatan produksi, Toto menekankan pentingnya sinergi antar-BUMN maupun dengan sektor swasta agar produk hilirisasi dapat terserap pasar secara optimal, termasuk pengembangan gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) oleh PTBA sebagai substitusi LPG impor.
Ia juga mengingatkan pentingnya penerapan prinsip good mining practice serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan menjaga daya saing perusahaan.
“Kombinasi antara hilirisasi, sinergi, dan penerapan teknologi akan menjadi kunci keberlanjutan bisnis ke depan,” pungkasnya.











