ANTAM Perkuat Posisi Industri lewat Lonjakan Profit dan Hilirisasi Mineral

Avatar photo

- Editor

Rabu, 1 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PT ANTAM

PT ANTAM

KABARTAMBANG – Kinerja keuangan PT Aneka Tambang Tbk atau ANTAM mencatat lonjakan signifikan sepanjang tahun buku 2025.

Perusahaan membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp7,92 triliun atau meningkat 106 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp3,85 triliun.

Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan di tengah dinamika global yang penuh tekanan.

Pendapatan perusahaan juga mengalami pertumbuhan menjadi Rp84,64 triliun dari sebelumnya Rp69,19 triliun.

Kenaikan kinerja tersebut didorong oleh penguatan operasional dan efisiensi biaya yang dilakukan secara konsisten.

Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, menyebut pencapaian ini memperkuat posisi perusahaan sebagai pemain utama di sektor pertambangan mineral terintegrasi.

“Kinerja ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan mendukung pembangunan industri nasional,” ujarnya.

Selain laba bersih, kinerja EBITDA ANTAM juga meningkat menjadi Rp10,51 triliun dari Rp6,73 triliun pada tahun sebelumnya.

Laba kotor tercatat sebesar Rp13,68 triliun atau naik 111 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara laba usaha mencapai Rp8,40 triliun atau tumbuh 180 persen secara tahunan.

Penurunan beban keuangan sebesar 30 persen turut memperkuat kinerja profitabilitas perusahaan.

Dari sisi neraca, total aset ANTAM meningkat menjadi Rp52,53 triliun dari Rp44,52 triliun.

BACA JUGA  ANTAM Kembali Ikut Mudik Bersama BUMN dan ESDM

Nilai ekuitas juga mengalami pertumbuhan menjadi Rp36,60 triliun dari Rp32,20 triliun.

Perusahaan juga mencatat arus kas operasi sebesar Rp5,62 triliun atau meningkat 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Posisi kas dan setara kas melonjak menjadi Rp8,43 triliun yang menunjukkan penguatan likuiditas.

Kinerja operasional ANTAM didukung oleh peningkatan produksi dan penjualan komoditas utama.

Produksi bijih nikel mencapai 16,11 juta wet metric ton atau meningkat 62 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penjualan bijih nikel tercatat 14,58 juta wet metric ton atau naik 75 persen.

Segmen nikel memberikan kontribusi sebesar Rp14,85 triliun terhadap total pendapatan perusahaan.

Di sisi lain, segmen emas menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi sekitar 79 persen dari total penjualan.

Penjualan emas tercatat Rp66,47 triliun atau meningkat 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Volume penjualan emas mencapai 37.365 kilogram yang mencerminkan tingginya permintaan domestik.

Segmen bauksit dan alumina juga menunjukkan pertumbuhan dengan nilai penjualan Rp2,92 triliun.

Produksi bauksit mencapai 2,83 juta wet metric ton yang menjadi capaian tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Penjualan bauksit meningkat signifikan menjadi 1,89 juta wet metric ton.

Produksi alumina juga meningkat menjadi 181.690 ton seiring optimalisasi fasilitas pengolahan.

BACA JUGA  Revisi RKAB Disiapkan PT Vale untuk Menjaga Target

ANTAM juga memperkuat komitmen terhadap aspek Environmental, Social, and Governance atau ESG.

Perusahaan mencatat penurunan skor risiko ESG berdasarkan laporan Sustainalytics menjadi 33,36 dari sebelumnya 42,06.

Langkah ini mencerminkan peningkatan tata kelola dan manajemen risiko perusahaan.

Di sisi pengembangan bisnis, ANTAM terus mempercepat proyek hilirisasi mineral.

Proyek fasilitas manufaktur logam mulia tengah dibangun di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate di Gresik, Jawa Timur.

Pada segmen nikel, perusahaan mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik bersama mitra global.

Proyek tersebut telah memasuki tahap konstruksi di Halmahera Timur sejak akhir 2025.

ANTAM juga menjalin kerja sama dengan Indonesia Battery Corporation dan mitra strategis internasional dalam pengembangan industri baterai.

Untuk segmen bauksit, perusahaan mengembangkan proyek Smelter Grade Alumina Refinery di Mempawah.

Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 dengan kapasitas produksi 1 juta ton alumina.

Pengembangan fase kedua proyek tersebut juga telah dimulai pada awal 2026.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri.

Berbagai strategi tersebut diharapkan mampu menjaga pertumbuhan jangka panjang perusahaan serta memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. ***

Berita Terkait

Transisi Energi Indonesia Dipercepat Demi Target Net Zero Emission 2060
Begini Strategi Pertamina Jaga Ketahanan Energi
Pertamina Dorong Peran BUMN Energi Hadapi Geopolitik dan Transisi Energi Global
PT Vale Gelontorkan Rp70 Miliar untuk Program Sosial di Morowali
Grup Merdeka Paparkan Inovasi Tambang Pani dan Teknologi GIS
PT Bukit Asam Tutup Program Basic Mechanic Course
PT TIMAH Dukung HUT ke-18 Desa Permis
Pertamina Goes to Campus 2026 Kembali Buka Pendaftaran
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:34 WITA

Transisi Energi Indonesia Dipercepat Demi Target Net Zero Emission 2060

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:31 WITA

Begini Strategi Pertamina Jaga Ketahanan Energi

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:06 WITA

PT Vale Gelontorkan Rp70 Miliar untuk Program Sosial di Morowali

Sabtu, 16 Mei 2026 - 16:26 WITA

Grup Merdeka Paparkan Inovasi Tambang Pani dan Teknologi GIS

Sabtu, 16 Mei 2026 - 16:12 WITA

PT Bukit Asam Tutup Program Basic Mechanic Course

Berita Terbaru

Komitmen Wujudkan Lingkungan Ramah Anak, PTBA Kantongi Apresiasi Bupati Muara Enim

Pemerintahan

Dukung Kabupaten Layak Anak, PTBA Raih Apresiasi Pemda

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:39 WITA

Pertamina berbagi  ilmu dengan mahasiswa

Korporasi

Begini Strategi Pertamina Jaga Ketahanan Energi

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:31 WITA