KABARTAMBANG – Proyek pengembangan tambang nikel Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa milik PT Vale Indonesia Tbk menunjukkan kemajuan konstruksi yang cukup pesat pada awal tahun 2026.
Perusahaan mencatat progres pembangunan keseluruhan proyek telah mencapai 65,76 persen hingga Januari 2026.
Capaian tersebut menandakan pekerjaan konstruksi masih berjalan sesuai rencana pengembangan yang telah disusun sebelumnya.
Sejumlah infrastruktur utama juga telah diselesaikan sebagai penopang aktivitas proyek di kawasan Pomalaa, Sulawesi Tenggara.
Salah satu fasilitas yang telah rampung yakni North Access Road yang berfungsi sebagai jalur utama mobilitas kendaraan proyek.
Perusahaan juga membangun Main Construction Office yang menjadi pusat pengendali berbagai kegiatan konstruksi di area tambang.
Selain itu, PT Vale menyiapkan fasilitas persemaian modern dengan kapasitas hingga satu juta bibit pohon untuk mendukung program rehabilitasi lingkungan.
Pembangunan fasilitas tersebut menjadi bagian dari penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan sejak tahap konstruksi proyek.
Pekerjaan pembangunan jalur utama pengangkutan material atau Main Haul Road menuju area stockpile saat ini telah mencapai sekitar 40 persen.
Sementara itu, pembangunan kawasan hunian pekerja atau Living Area yang difungsikan sebagai operation camp telah mencapai 41 persen.
Pembangunan fasilitas workshop dan area perkantoran proyek juga terus dikebut dengan progres konstruksi mencapai 57 persen.
PT Vale turut menjalin kolaborasi dengan mitra industri Huayou melalui perusahaan Kolaka Nickel Indonesia dalam pengembangan fasilitas pengolahan.
Pembangunan Feed Preparation Plant dan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) yang menjadi bagian dari kerja sama tersebut telah melampaui progres 36 persen.
Seluruh aktivitas konstruksi dijalankan dengan mengedepankan standar keselamatan kerja serta efisiensi operasional di lapangan.
Nilai investasi proyek terintegrasi IGP Pomalaa diperkirakan mencapai sekitar Rp74,44 triliun atau setara lebih dari US$4,43 miliar.
Investasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pengembangan industri hilirisasi nikel sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Sulawesi Tenggara.
Penjualan Perdana Nikel
PT Vale juga mencatat langkah baru dengan melakukan penjualan perdana bijih nikel yang berasal dari area tambang IGP Pomalaa.
Penjualan awal tersebut menandai peralihan proyek dari tahap pembangunan menuju fase operasional yang mulai menghasilkan pendapatan.
Perusahaan mengaktifkan area oresell yang berada di Pit PB5 dan Pit PB1 untuk mendukung distribusi material dari lokasi tambang.
Kedua pit tersebut dirancang sebagai pusat pengelolaan material yang dapat menjaga stabilitas produksi sekaligus mengatur arus pengiriman bijih nikel.
Area tersebut memiliki kapasitas penyimpanan hingga empat juta wet metric ton bijih limonit.
Kapasitas tersebut memberikan ruang inventori yang cukup luas untuk menjaga keberlanjutan suplai bahan baku menuju fasilitas pengolahan di Pomalaa.
Perusahaan juga menargetkan produksi limonit mencapai sekitar 300.000 ton setiap bulan.
Target tersebut setara dengan produksi harian sekitar 9.677 ton yang direncanakan mulai dicapai pada Maret 2026.
Strategi peningkatan produksi dilakukan secara bertahap untuk memastikan operasional tambang berjalan stabil dan efisien.
Dengan kapasitas penyimpanan yang besar serta rencana produksi bulanan yang terukur, proyek IGP Pomalaa diharapkan mampu menjaga kesinambungan pasokan bijih nikel dari kawasan tersebut.











