KABARTAMBANG – Harga emas mulai menunjukkan pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan tajam di pasar global.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada Senin 30 Maret 2026 pukul 06.20 WIB berada di level US$ 4.481,69 per troy ons atau turun 0,25 persen.
Pergerakan ini berbanding terbalik dengan penutupan perdagangan Jumat 27 Maret 2026 yang mencapai US$ 4.492,48 per troy ons setelah menguat 2,6 persen.
Kenaikan tersebut terjadi setelah emas sempat terkoreksi 2,8 persen sehari sebelumnya.
Sepanjang pekan lalu, harga emas tercatat menguat tipis 0,11 persen setelah mengalami pelemahan selama tiga pekan berturut-turut.
Pergerakan emas saat ini masih dipengaruhi kuat oleh faktor makro global.
Penguatan dolar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas.
Indeks dolar tercatat berada di level 100,338 yang merupakan posisi tertinggi sejak Mei 2025.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun juga meningkat hingga 4,44 persen.
Kondisi tersebut membuat emas kurang diminati karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen obligasi.
Selain itu, penguatan dolar menyebabkan harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Situasi geopolitik yang memanas, termasuk konflik di Timur Tengah, belum mampu mendorong kenaikan signifikan pada harga emas.
Logam mulia lain seperti perak dan paladium justru mengalami tekanan lebih dalam.
Sentimen di sektor pertambangan juga masih cenderung lemah yang tercermin dari pergerakan saham-saham tambang.
Saat ini, emas dinilai masih berada dalam fase stabilisasi karena belum memiliki arah pergerakan yang jelas.
Tekanan jangka pendek diperkirakan masih kuat seiring tingginya yield dan solidnya dolar AS.
Pergerakan emas ke depan akan dipengaruhi kebijakan moneter global, kondisi pasar obligasi, serta perkembangan konflik geopolitik.
Pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat seperti tenaga kerja ADP, penjualan ritel, dan Non-Farm Payrolls.
Investor diminta mencermati perkembangan global secara cermat karena perubahan sentimen dapat terjadi dalam waktu singkat. ***











