Vale Pomalaa Perkuat Posisi Indonesia di Rantai Pasok Mineral Dunia

Avatar photo

- Editor

Minggu, 8 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KABARTAMBANG – PT Vale Indonesia Tbk mencatat penjualan perdana bijih nikel dari proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa sebagai awal fase operasional setelah sebelumnya berada pada tahap pembangunan.

Perusahaan tambang nikel yang merupakan bagian dari holding industri pertambangan MIND ID tersebut menyebut pencapaian ini menjadi langkah penting dalam memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis dunia.

Penjualan perdana tersebut menandai transisi proyek dari tahap konstruksi menuju fase operasional yang mulai menghasilkan pendapatan.

Langkah ini juga menunjukkan kesiapan sistem produksi serta memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Nikel menjadi salah satu komponen utama dalam baterai lithium-ion, khususnya pada katoda berkadar nikel tinggi yang digunakan pada kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.

Permintaan terhadap logam ini diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan seiring percepatan elektrifikasi dan transisi energi global.

Sebagai salah satu negara dengan sumber daya nikel terbesar di dunia, Indonesia memegang peran strategis dalam ekosistem industri tersebut.

Proyek IGP Pomalaa turut mendukung agenda hilirisasi nasional melalui penguatan nilai tambah mineral melalui operasi pertambangan dan pengolahan yang terintegrasi.

BACA JUGA  PT Vale dan Forkopimda Luwu Timur Perkuat Sinergi Bangun Daerah Berkelanjutan

Nilai investasi proyek ini mencapai sekitar Rp74,44 triliun atau setara sekitar 4,43 miliar dolar Amerika Serikat.

Penjualan Perdana Nikel

Penjualan perdana bijih nikel dari proyek Pomalaa dimungkinkan setelah pengoperasian area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1.

Kedua lokasi tersebut dirancang untuk mengoptimalkan alur distribusi material serta menjaga stabilitas produksi di kawasan tambang.

Pit PB5 dan Pit PB1 memiliki kapasitas penimbunan bijih limonit hingga empat juta wet metric ton atau Mwmt.

Kapasitas tersebut memberikan fleksibilitas pengelolaan stok sekaligus memastikan pasokan bahan baku bagi fasilitas pengolahan di Pomalaa tetap terjaga.

Direktur sekaligus Chief Project Officer PT Vale Indonesia Muhammad Asril menyebut pengoperasian area oresell menjadi langkah strategis dalam menjaga ritme produksi serta distribusi material di kawasan proyek.

“Dengan percepatan pembangunan infrastruktur, kami berkomitmen memastikan IGP Pomalaa berjalan selaras dengan standar operasional yang optimal dan praktik pertambangan berkelanjutan,” kata Asril.

Keberadaan fasilitas penyimpanan skala besar tersebut juga dinilai mampu menjaga stabilitas pasokan bahan baku serta memperkuat ketahanan logistik di tengah dinamika pasar komoditas global.

Memasuki Maret 2026, proyek IGP Pomalaa menargetkan produksi limonit sekitar 300 ribu ton per bulan atau sekitar 9.677 ton per hari.

BACA JUGA  Menteri Bahlil Tegaskan Upaya Pemerintah Capai Kedaulatan Energi

Strategi peningkatan produksi dilakukan secara bertahap untuk memastikan operasional berjalan stabil dan kapasitas produksi dapat dimanfaatkan secara optimal.

Dengan kapasitas penyimpanan empat juta Mwmt, proyek ini memiliki cadangan persediaan yang cukup untuk menjaga kelancaran pasokan dan meminimalkan potensi gangguan operasional.

Progres Infrastruktur Proyek

Percepatan pembangunan infrastruktur menjadi fokus utama untuk meningkatkan efisiensi operasional proyek.

Hingga Januari 2026, progres konstruksi keseluruhan proyek IGP Pomalaa telah mencapai sekitar 65,76 persen.

Sementara pembangunan jalur utama angkut atau Main Haul Road menuju area stockpile telah mencapai sekitar 40 persen.

Jalur tersebut akan menjadi infrastruktur utama distribusi material dari area tambang menuju fasilitas pengolahan dan pelabuhan.

Keberadaan jalur ini diharapkan meningkatkan produktivitas pengangkutan serta mengurangi potensi hambatan logistik.

Perkembangan proyek tersebut juga dinilai mendukung strategi hilirisasi nasional yang mendorong peningkatan pengolahan mineral di dalam negeri.

Sebagai bagian dari MIND ID, PT Vale menyatakan komitmen untuk mendukung pengembangan industri nikel yang terintegrasi, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Berita Terkait

Program E50 untuk Kurangi Ketergantungan BBM Impor
Pemerintah Dorong Hilirisasi Minerba dan Perluas Manfaat Tambang bagi Masyarakat
Tata Kelola Minerba Diperbaiki, PNBP Disebut Meningkat Meski Produksi Batu Bara Turun
PSEL Legok Nangka Olah 2.131 Ton Sampah Jadi Listrik
Pemerintah Percepat Operasional PLTA Batang Toru 510 MW
Komisaris Utama Pertamina Tinjau Fasilitas Energi di Kupang
Bahlil Buka Lelang 118 Blok Migas
Wamen ESDM Tekankan Integritas dan Disiplin Pejabat

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 08:18 WITA

Program E50 untuk Kurangi Ketergantungan BBM Impor

Selasa, 22 September 2026 - 08:15 WITA

Pemerintah Dorong Hilirisasi Minerba dan Perluas Manfaat Tambang bagi Masyarakat

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:08 WITA

PSEL Legok Nangka Olah 2.131 Ton Sampah Jadi Listrik

Kamis, 30 Juli 2026 - 15:03 WITA

Pemerintah Percepat Operasional PLTA Batang Toru 510 MW

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:32 WITA

Komisaris Utama Pertamina Tinjau Fasilitas Energi di Kupang

Berita Terbaru

PT Vale Raih Dua Gold Award InTechSEA 2026

Korporasi

PT Vale Raih Dua Gold Award InTechSEA 2026

Selasa, 22 Sep 2026 - 08:26 WITA

Pertamina siagakan pasokan BBM, LPG dan layanan motoris di Jalur Pantura serta dorong UMKM untuk dukung arus mudik Idulfitri 1447 H.

Korporasi

Indonesia Dorong Produksi Minyak dari 45 Ribu Sumur Tua

Selasa, 22 Sep 2026 - 08:21 WITA

Harga minyak mentah Indonesia Februari naik menjadi USD68,79 per barel dipicu ketegangan geopolitik dan penurunan produksi minyak global.

Pemerintahan

Program E50 untuk Kurangi Ketergantungan BBM Impor

Selasa, 22 Sep 2026 - 08:18 WITA