KUTIP.co – Pemerintah terus mempercepat langkah menuju ketahanan dan swasembada energi di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional serta dinamika geopolitik global yang memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.
Salah satu strategi yang ditempuh adalah mempercepat eksplorasi dan pengembangan sektor minyak dan gas bumi (migas) guna mendukung target produksi nasional sebesar 900 ribu hingga 1 juta barel minyak per hari pada 2029.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka peluang investasi yang lebih luas melalui penawaran lelang sejumlah Wilayah Kerja (WK) Migas potensial.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan cadangan dan produksi migas nasional secara berkelanjutan.
“Ini saya buka secara umum, siapa saja boleh ikut. Tidak perlu nego-nego di belakang meja. Yang penting kalian punya teknologi, kalian punya uang, kalian punya keseriusan. Silahkan mengelola hasil yang ada untuk kebaikan rakyat bangsa dan negara,” ujar Bahlil saat membuka Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 di Tangerang, Banten.
Hingga Mei 2026, Kementerian ESDM telah mengidentifikasi sebanyak 118 Wilayah Kerja Migas yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan.
Sebanyak 43 wilayah masih berada pada tahap studi bersama.
Sebanyak 50 wilayah berada pada tahap penawaran studi dan akuisisi data baru.
Sementara 25 wilayah lainnya telah ditandatangani kontraknya.
Dari jumlah tersebut, delapan wilayah kerja merupakan hasil lelang tahun 2025 yang penandatanganan kontraknya disaksikan langsung oleh Menteri ESDM.
Delapan Blok Migas Baru Simpan Potensi 255 Juta Barel Minyak
Delapan wilayah kerja tersebut meliputi Gagah, Bintuni, Karunia, Drawa, Jalu, Southwest Andaman, Barong, dan Nawasena.
WK Gagah yang berada di daratan Sumatera Selatan memiliki potensi sumber daya sebesar 173 juta barel minyak dan 1,1 TCF gas.
WK Bintuni di Papua Barat diperkirakan menyimpan potensi 2,1 TCF gas.
WK Karunia yang berada di Sumatera Utara dan Riau memiliki potensi 82 juta barel minyak serta 0,13 TCF gas.
WK Drawa di Papua Barat dan Papua Barat Daya diperkirakan memiliki sumber daya 0,36 TCF gas.
WK Jalu di Laut Andaman memiliki potensi sebesar 2,9 TCF gas.
WK Southwest Andaman diperkirakan menyimpan potensi hingga 3 TCF gas.
WK Barong yang berada di perairan Jawa Timur dan Sulawesi Selatan memiliki sumber daya sekitar 2,9 TCF gas.
Sementara WK Nawasena di Jawa Timur memiliki potensi sebesar 1,3 TCF gas.
Secara keseluruhan, delapan wilayah kerja tersebut memiliki total komitmen pasti sebesar USD57,95 juta.
Total bonus tanda tangan yang diperoleh mencapai USD3,15 juta.
Potensi sumber daya yang tersimpan diperkirakan mencapai 255 juta barel minyak dan 13,79 TCF gas.
Menurut Bahlil, tingginya minat investor terhadap blok migas tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan dunia usaha terhadap potensi energi Indonesia.
Ia menilai investasi tersebut dapat menjadi katalis penting dalam menemukan cadangan migas baru dan meningkatkan produksi nasional.
Selain itu, investasi juga diharapkan mampu meningkatkan penerimaan negara dan membuka lapangan pekerjaan.
Bahlil turut mendorong keterlibatan pengusaha daerah dalam proyek-proyek migas di wilayah masing-masing.
Menurutnya, pelaku usaha lokal harus mendapatkan kesempatan yang sama selama memiliki kompetensi dan kemampuan yang memadai.
“Agar pengusaha-pengusaha daerah itu harus dikolaborasikan, jangan semua kontraktor orang Jakarta semua. Jadikanlah orang daerah itu menjadi tuan di negerinya sendiri selama mereka profesional,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara Kementerian ESDM, SKK Migas, dan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar seluruh proyek dapat berjalan sesuai aturan dan selesai tepat waktu.
Bahlil meminta seluruh pihak tidak menghambat investasi yang masuk ke sektor hulu migas.
“Saya minta jangan lagi diperlambat investor di KKKS. Di hulu migas ini resikonya besar, jangan dipersulit, harus dipermudah,” tegasnya.
Menurutnya, kerja sama yang baik antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci untuk mewujudkan target peningkatan produksi migas nasional serta memperkuat ketahanan energi Indonesia di masa depan.











