KABARTAMBANG – MIND ID menegaskan perlunya kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat investasi serta pengembangan hilirisasi sektor mineral dan batu bara (minerba) di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Division Head Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika, dalam forum strategis yang membahas isu lintas sektor di Jakarta dikutip dari Jurnas.com.
Ia menilai keterlibatan berbagai pihak menjadi faktor penentu dalam mendorong peningkatan nilai tambah dari sumber daya alam nasional.
Dalam dua tahun terakhir, realisasi investasi di sektor hilirisasi menunjukkan peningkatan signifikan dengan capaian Rp431,4 triliun sepanjang Januari hingga September 2025.
Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 58,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selly menyebut perkembangan ini menunjukkan bahwa hilirisasi telah berkembang menjadi penggerak utama transformasi industri berbasis sumber daya alam.
Hilirisasi Minerba Dorong Transformasi Industri Nasional
Dalam forum KILAS atau Kupas Isu Lintas Sektor Strategis Balik Ramadan, Selly menyampaikan bahwa proses hilirisasi membutuhkan kesinambungan kebijakan dan kerja sama berbagai pihak.
Ia menyatakan, “Hilirisasi merupakan proses jangka panjang yang menuntut konsistensi dan kolaborasi berbagai pihak.”
Menurutnya, dukungan dari pemerintah, pelaku industri, dan investor harus berjalan seiring agar potensi sumber daya mineral dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi.
MIND ID sendiri terus menjalankan berbagai proyek strategis untuk memperkuat agenda tersebut di sejumlah wilayah Indonesia.
Program yang dikembangkan meliputi pembangunan fasilitas pengolahan bauksit menjadi aluminium, smelter tembaga dan Precious Metal Refinery di Gresik, serta proyek hilirisasi nikel di Sulawesi.
Selain itu, perusahaan juga memperkuat infrastruktur logistik batu bara guna mendukung efisiensi distribusi.
Di tengah perkembangan tersebut, Selly mengakui bahwa industri masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi harga komoditas global hingga perubahan rantai pasok dan dinamika geopolitik.
Kondisi tersebut turut memengaruhi biaya produksi serta strategi bisnis perusahaan di sektor pertambangan.
Pada sisi lain, kebijakan pembatasan ekspor mineral mentah dinilai membuka peluang bagi pengembangan industri pengolahan di dalam negeri.
Langkah tersebut diarahkan untuk membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam industri berbasis teknologi tinggi.
Indonesia memiliki cadangan sumber daya yang besar, termasuk nikel sekitar 55 juta ton, bauksit 2,865 miliar ton, serta batu bara mencapai 31,96 miliar ton.
Selly menambahkan forum KILAS menjadi sarana evaluasi bagi para pemangku kepentingan dalam meninjau capaian program strategis serta menyusun langkah lanjutan secara bersama.
Ia menilai keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tetapi juga dari kekuatan struktur industri yang terbentuk serta dampaknya terhadap perekonomian nasional.











