KABARTAMBANG – PT Vale Indonesia Tbk memastikan produksi nikel matte di smelter Sorowako, Sulawesi Selatan, tetap berjalan sesuai proyeksi meski pemerintah melakukan pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor nikel.
Kebijakan pengurangan RKAB diterapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menekan pasokan nikel nasional agar harga komoditas tersebut di pasar global dapat terdongkrak.
Direktur sekaligus Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale, Budiawansyah, menyampaikan rencana produksi nikel matte perusahaan tidak mengalami perubahan.
“Rencana produksi nikel matte tidak terpengaruh sama sekali dan masih sesuai dengan forecast,” ujar Budiawansyah dalam acara buka puasa bersama di Jakarta, Jumat.
Operasional smelter Sorowako tetap berjalan stabil karena pemerintah memberikan persetujuan penuh terhadap RKAB Vale untuk kegiatan produksi di wilayah tersebut.
Proyek Smelter Pomalaa Dikebut
Perhatian perusahaan saat ini tertuju pada kesiapan pasokan bijih nikel untuk smelter berbasis high pressure acid leaching (HPAL) yang tengah dibangun di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.
Proyek smelter tersebut ditargetkan mencapai tahap mechanical completion atau penyelesaian mekanis pada Agustus 2026 apabila tidak ada hambatan berarti.
Vale menyiapkan rencana peningkatan produksi pada semester kedua setelah fasilitas tersebut memasuki fase awal operasi.
Perusahaan memperkirakan pasokan bijih nikel harus tersedia sekitar dua hingga tiga bulan sebelum tahap produksi dimulai.
Vale telah berkomunikasi dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM untuk mengajukan revisi RKAB tahun 2026 guna memastikan ketersediaan bahan baku bagi smelter Pomalaa.
Budiawansyah menyebut pemerintah memahami kebutuhan tersebut karena pembangunan smelter HPAL merupakan bagian dari komitmen hilirisasi nikel nasional.
Vale menargetkan revisi RKAB dapat disetujui pada Juni 2026 atau bahkan lebih awal agar persiapan operasional smelter Pomalaa berjalan sesuai rencana.











