Tekanan Harga Nikel Picu Koreksi Saham Emiten Tambang di Bursa

Avatar photo

- Editor

Senin, 9 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bursa pasar

Bursa pasar

KABARTAMBANG – Tren kenaikan sejumlah komoditas global tidak sepenuhnya dirasakan pasar nikel yang justru menunjukkan pelemahan sejak awal Maret 2026.

Data Trading Economics mencatat harga nikel turun tajam dalam beberapa hari terakhir hingga berada di level sekitar US$17.227,88 per ton pada penutupan perdagangan Jumat.

Penurunan tersebut tercatat sekitar 2,90 persen dalam sepekan terakhir dan memicu kekhawatiran terhadap prospek kinerja perusahaan tambang nikel di pasar modal.

Tekanan harga komoditas langsung tercermin pada pergerakan saham sejumlah emiten tambang nikel yang mengalami koreksi sepanjang pekan perdagangan.

Saham PT Vale Indonesia Tbk menjadi salah satu yang mengalami pelemahan paling dalam setelah turun sekitar 21,52 persen hingga berada di level Rp6.200 per saham.

Pergerakan negatif juga terjadi pada saham PT Merdeka Battery Materials Tbk yang melemah sekitar 16,37 persen ke posisi Rp715 per saham.

Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk turut terkoreksi sekitar 11,69 persen hingga berada di level Rp1.360 per saham.

Sementara itu saham PT Central Omega Resources Tbk turun sekitar 11,83 persen ke posisi Rp745 per saham.

Saham PT PAM Mineral Tbk juga tercatat mengalami pelemahan sekitar 9,55 persen dan berada di kisaran Rp995 per saham.

Koreksi harga saham tersebut mencerminkan sentimen pasar yang cenderung berhati-hati terhadap sektor logam dasar, khususnya nikel.

BACA JUGA  PT Timah Dukung Pesantren Kilat Remaja Masjid di Belitung Timur

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menjelaskan pergeseran minat investor global menjadi salah satu penyebab tekanan pada komoditas tersebut.

“Fokus investor saat ini beralih ke aset safe haven dan energi seperti emas serta migas karena meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah,” ujar Wafi.

Ia menilai kondisi tersebut membuat sektor logam dasar termasuk nikel kurang diminati dalam jangka pendek.

Selain faktor sentimen pasar, kondisi fundamental industri juga belum sepenuhnya mendukung penguatan harga komoditas tersebut.

Pasar nikel global masih dibayangi kondisi kelebihan pasokan atau oversupply yang menahan laju kenaikan harga.

Perlambatan pertumbuhan adopsi kendaraan listrik juga dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi permintaan nikel di pasar global.

Wafi memperkirakan harga nikel dalam waktu dekat bergerak terbatas pada kisaran US$16.000 hingga US$18.500 per ton.

Beberapa faktor eksternal dinilai berpotensi memberikan dukungan terhadap pasar nikel apabila terjadi pelonggaran suku bunga global.

Stimulus pemulihan sektor properti di China juga diperkirakan dapat meningkatkan permintaan stainless steel yang menggunakan nikel sebagai bahan baku.

Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe menilai pelaku pasar saat ini masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan produksi nikel nasional.

BACA JUGA  Tips Aman Membeli Emas Antam di Era Media Sosial

Ia menyebut investor masih mencermati dampak pemangkasan produksi nikel domestik terhadap keseimbangan pasokan dan harga di pasar global.

Kiswoyo menilai PT Vale Indonesia Tbk memiliki peluang mencatatkan kinerja relatif lebih kuat dibandingkan emiten lain pada 2026.

Hal tersebut didukung oleh model bisnis perusahaan yang mengelola kegiatan pertambangan nikel terintegrasi serta pengembangan tiga proyek smelter berteknologi High Pressure Acid Leach.

Wafi juga menilai perusahaan tambang yang memiliki integrasi penuh dari hulu hingga hilir serta biaya produksi rendah berpotensi mempertahankan kinerja lebih stabil.

Fokus pada produksi nikel kelas satu seperti Mixed Hydroxide Precipitate juga dinilai menjadi keunggulan bagi emiten yang memasok bahan baku industri baterai kendaraan listrik.

Selain itu, akses terhadap sumber energi berbiaya lebih rendah dapat membantu perusahaan menjaga margin ketika harga komoditas mengalami fluktuasi.

Bagi investor yang masih mencermati sektor ini, beberapa saham nikel masih dinilai memiliki potensi dengan target harga tertentu.

Wafi memproyeksikan saham INCO memiliki target harga sekitar Rp8.500 per saham.

Saham NCKL diproyeksikan berpotensi menuju level Rp2.000 per saham.

Sementara saham MBMA diperkirakan memiliki target harga di kisaran Rp700 per saham. ***

Berita Terkait

PT Timah Dukung Pesantren Kilat Remaja Masjid di Belitung Timur
Tips Aman Membeli Emas Antam di Era Media Sosial
Mengenal Bernardus Irmanto Presiden Direktur PT Vale Indonesia
Kementerian PKP Bidik Maluk Jadi Kawasan Industri Tambang Berkelanjutan
Bahlil Pimpin Sidang DEN Antisipasi Krisis Energi
Investasi US$9 Miliar, PT Vale Perkuat Rantai Pasok Global
PT Vale Catat Penjualan Perdana Bijih Nikel IGP Pomalaa
Mengenal Apa Itu Nikel, Logam Strategis di Era Modern

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 21:19 WITA

PT Timah Dukung Pesantren Kilat Remaja Masjid di Belitung Timur

Selasa, 10 Maret 2026 - 20:53 WITA

Tips Aman Membeli Emas Antam di Era Media Sosial

Selasa, 10 Maret 2026 - 20:41 WITA

Mengenal Bernardus Irmanto Presiden Direktur PT Vale Indonesia

Selasa, 10 Maret 2026 - 15:38 WITA

Kementerian PKP Bidik Maluk Jadi Kawasan Industri Tambang Berkelanjutan

Senin, 9 Maret 2026 - 15:07 WITA

Tekanan Harga Nikel Picu Koreksi Saham Emiten Tambang di Bursa

Berita Terbaru

UMKM binaan Bukit Asam catat penjualan tinggi di Bazar Ramadhan Kementerian ESDM dan perluas peluang pasar.

Korporasi

Partisipasi UMKM Bukit Asam di Bazar ESDM Dongkrak Penjualan

Kamis, 26 Mar 2026 - 15:43 WITA

Layanan BRANKAS ANTAM memudahkan pembelian emas digital setiap hari hingga malam, praktis dan fleksibel melalui aplikasi resmi.

Korporasi

BRANKAS ANTAM Hadirkan Kemudahan Beli Emas Digital Setiap Hari

Kamis, 26 Mar 2026 - 15:32 WITA