KABARTAMBANG – Gejolak perang di Timur Tengah mendorong tekanan terhadap pasokan energi global, terutama minyak dan gas bumi (migas).
Situasi tersebut membuat banyak negara memperkuat strategi pengamanan energi, termasuk Indonesia yang masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Meski memiliki produksi domestik, volume pasokan nasional masih berada di bawah tingkat konsumsi.
Karena itu, pemerintah menempuh berbagai langkah strategis, salah satunya memperluas kerja sama dengan Rusia sebagai salah satu produsen energi utama dunia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin menghasilkan kesepahaman untuk memperkuat kolaborasi jangka panjang di sektor energi.
Menurut Bahlil, di tengah ketidakpastian global Indonesia harus membuka akses pasokan dari berbagai sumber, tidak bergantung pada satu negara saja. Atas arahan Presiden, pemerintah telah melakukan komunikasi intensif dengan otoritas Rusia dan hasilnya dinilai positif.
Ia mengungkapkan Indonesia berpeluang memperoleh tambahan pasokan minyak mentah dari Rusia. Selain itu, pihak Rusia juga menyatakan kesiapan berinvestasi pada pembangunan infrastruktur energi guna memperkuat cadangan nasional.
Kerja sama tersebut dinilai penting mengingat kebutuhan energi Indonesia yang terus meningkat setiap tahun.
Pemerintah pun membuka peluang kolaborasi luas dengan negara-negara produsen lain seperti Amerika Serikat, negara-negara Afrika, hingga mitra tradisional lainnya.
Bahlil menegaskan kebijakan itu sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Dalam konteks ekonomi, Indonesia tetap terbuka menjalin kemitraan dengan berbagai negara selama memberi manfaat bagi kepentingan nasional.
Pemerintah juga memastikan pasokan minyak mentah hingga akhir tahun 2026 dalam kondisi aman. Fokus berikutnya adalah meningkatkan kapasitas pengolahan melalui kilang dalam negeri agar ketergantungan impor dapat ditekan secara bertahap.
Sebelumnya, Bahlil mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan Presiden Putin di Kremlin, Moskow.
Agenda tersebut membahas peluang kerja sama energi yang diarahkan untuk menjaga stabilitas pasokan domestik, termasuk pengembangan kilang dan perdagangan minyak.
Sehari berselang, Bahlil melanjutkan pembahasan dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak menjajaki peluang konkret terkait pasokan minyak mentah, LPG, serta fasilitas penyimpanan energi.
Menurut Bahlil, hasil pembicaraan menunjukkan prospek positif karena Indonesia berpeluang menambah cadangan crude sekaligus memperoleh dukungan suplai LPG.
Kerja sama ini dijajaki melalui skema antarpemerintah maupun antarpelaku usaha. Pemerintah berharap langkah tersebut mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus memberi kepastian pasokan bagi masyarakat dan industri.











