KabarTambang.com – Perusahaan nikel berkelanjutan PT Vale Indonesia mencatatkan penjualan perdana bijih nikel dari proyek Indonesia Growth Project Pomalaa pada Minggu, 1 Maret 2026.
Capaian tersebut menandai peralihan penting proyek dari fase konstruksi menuju tahap operasional yang mulai memberikan kontribusi pendapatan bagi perseroan.
Penjualan perdana bijih nikel ini menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis, khususnya untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik.
IGP Pomalaa juga tercatat sebagai bagian dari agenda hilirisasi nasional dengan nilai investasi terintegrasi mencapai sekitar Rp74,44 triliun.
Penjualan bijih nikel dimungkinkan melalui aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1 yang dirancang untuk menjaga kestabilan pasokan material.
Director and Chief Project Officer PT Vale Indonesia Muhammad Asril menilai langkah tersebut strategis untuk memastikan kelancaran distribusi material sejak fase awal operasional.
“Kami memastikan pencapaian target IGP Pomalaa tetap sejalan dengan prinsip operasional yang unggul dan praktik pertambangan berkelanjutan,” ujar Muhammad Asril.
Transisi Proyek Menuju Operasi
Memasuki Maret 2026, proyek IGP Pomalaa menargetkan produksi sekitar 300.000 ton limonit per bulan untuk menjamin kesinambungan suplai ke fasilitas pengolahan.
Hingga Januari 2026, progres konstruksi keseluruhan proyek telah mencapai 65,76 persen yang mencerminkan pembangunan infrastruktur berjalan sesuai rencana.
Pembangunan jalan angkut utama atau Main Haul Road terus digenjot guna meningkatkan efisiensi distribusi material dari area tambang menuju pelabuhan.











